Opini, Narasi “Go Internasional” yang diagungkan oleh PT Merdeka Copper Gold Tbk melalui Proyek Emas Pani di Pohuwato tidak lebih dari sekedar window dressing (kosmetik pemanis) di atas penderitaan rakyat.
Di balik gemerlap angka produksi berskala global, tersimpan tabir hitam dari praktik accumulation by dispossession (akumulasi kekayaan melalui perampasan ruang hidup).
Kami, Anak Cucu Penambang Rakyat (ACPR), menyaksikan sebuah ironi besar: hak ekonomi, sosial, dan kultural (ecosoc rights) masyarakat lokal dikuliti demi memuaskan keserakahan korporasi raksasa.
“Tali Asih” Sebagai Bentuk Legal Euphemism dan Pemaksaan Sepihak
Sebagai Anak Cucu Penambang, saya menegaskan bahwa istilah “Tali Asih” yang dipaksakan perusahaan untuk mengganti lokasi rakyat adalah sebuah legal euphemism penghalusan istilah hukum yang manipulatif sekaligus penghinaan terhadap human dignity (harkat martabat manusia).
Mari kita bedah secara lugas, tali asih secara semantik adalah filantropi, sedekah, atau santunan sukarela atas dasar belas kasihan (charity).
Sejak kapan tanah, lahan mata pencaharian, dan hak keperdataan penambang rakyat yang sudah menduduki wilayah itu puluhan tahun secara de facto maupun de jure, bisa direduksi nilainya seperti santunan pengemis?
Ini adalah modus operandi korporasi kapitalis, memanipulasi bahasa untuk menghindari kewajiban fair compensation (ganti rugi yang adil). Ini bukan kesepakatan yang setara, melainkan bentuk asymmetric power relation (relasi kuasa yang timpang) yang mencekik hak-hak rakyat demi melicinkan jalan mereka menuju pasar internasional!
Watak Wolf in Sheep’s Clothing dan Dekadensi Etika “Tamu”
Pepatah leluhur Gorontalo mengajarkan kita untuk memuliakan tamu, namun dengan syarat tamu tersebut memiliki etika dan tahu diri. Apa yang dipertontonkan hari ini adalah contoh nyata dari arogansi pendatang yang bertindak bak “Musang berbulu domba” (a wolf in sheep’s clothing).
Mereka mengeksploitasi sumber daya alam berskala masif, lalu memberikan remah-remah kecil melalui program CSR yang minimalis. Sialnya, kontribusi yang tidak seberapa itu digelembungkan melalui hyperbolic marketing dan propaganda media seolah-olah mereka adalah pahlawan kemanusiaan.
Ini adalah greenwashing dan pencitraan murahan yang mengabaikan substansi masalah! Jangan pernah gunakan bantuan karitatif itu sebagai tameng untuk menutupi destructive impacts dari operasi Anda yang sesungguhnya telah mematikan urat nadi ekonomi penambang lokal.
Anda adalah investor seorang tamu jangan bertingkah seolah memiliki absolute sovereignty (kedaulatan mutlak) di atas tanah ini!
Menggugat Butanya Mata Hati Para Elit, Dimana Sense of Crisis Anda?
Opini ini saya lemparkan tepat ke muka para elit baik elit korporasi yang mabuk keuntungan, maupun elit birokrasi yang mengalami kemandulan keberanian (political cowardice).
• Kepada Elit Penguasa Daerah, Mengapa Anda diam dan terjebak dalam bureaucratic inertia (kelembaman birokrasi)? Apakah kilau investasi internasional telah membutakan mata hati Anda hingga tega membiarkan rakyat sendiri mengalami marjinalisasi di tanah kelahirannya? Kursi yang Anda duduki dibayar oleh mandat rakyat, bukan oleh saham korporasi! Jangan menjadi tameng atau kaki tangan kepentingan pemodal besar (corporate cronyism).
• Kepada Elit Korporasi, Ketahuilah, setiap gram emas yang Anda pamerkan di panggung internasional itu mengandung tetesan keringat, air mata, dan historical injustice (ketidakadilan sejarah) dari penambang rakyat yang haknya Anda kebiri.
Eksploitasi yang mengabaikan aspek social justice tidak akan pernah membawa keberkahan jangka panjang.
Lawan Arogansi, Rebut Kembali Hak Rakyat!
Kami, Anak Cucu Penambang Rakyat Pohuwato, menyatakan perlawanan total terhadap segala bentuk corporate arrogance (kesombongan korporasi) yang menindas. Kami menolak menjadi penonton dan korban dari resource curse (kutukan sumber daya alam) di rumah kami sendiri.
Hentikan lelucon manipulatif bernama “Tali Asih”! Terapkan prinsip Free, Prior, and Informed Consent (PADIATAPA) serta berikan ganti rugi yang berkeadilan, transparan, dan memanusiakan manusia.
Jika Anda tidak mampu menjadi tamu yang beradab dan menghormati hak sejarah penambang rakyat, jangan salahkan jika struktur sosial di Pohuwato akan terus bergolak menuntut keadilan. Suara kami tidak akan bisa dikooptasi, dan perlawanan ini tidak akan pernah surut selangkah pun!
Oleh: Anak Cucu Penambang Rakyat Pohuwato, Yopi Y. Latif.,C.ILJ



















