POHUWATO – Mohammad Rusli Laki angkat bicara terkait pernyataan sejumlah pihak yang mengatasnamakan aktivis dalam polemik pertambangan di Kabupaten Pohuwato. Ia menilai pernyataan tersebut terkesan “so’ tahu”, dengan cara pandang yang dangkal serta minim pemahaman terhadap dinamika dan persoalan yang terjadi di daerah.
Menurut Rusli, polemik pertambangan di Pohuwato tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Ia menyinggung kisruh putusan Mahkamah Agung yang hingga kini belum sepenuhnya memberikan kepastian di tingkat lokal.
Selain itu, persoalan alokasi Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) yang belum terselesaikan dinilai telah memicu kompetisi ruang hidup yang tidak adil.
“Ketika WPR dan IPR belum tuntas, sementara perusahaan diberi ruang luas untuk beroperasi, maka terjadi ketimpangan. Seolah-olah perusahaan menjadi entitas tunggal yang diberi karpet merah untuk memanfaatkan sumber daya alam Pohuwato,” ujarnya.
Rusli juga menyoroti dugaan tindakan intimidasi dan kriminalisasi terhadap penambang lokal. Ia menilai kondisi tersebut semakin mempersempit ruang gerak masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas pertambangan.
Rusli menegaskan bahwa lokomotif pergerakan ekonomi Pohuwato tidak terlepas dari kontribusi rakyat penambang. Aktivitas pertambangan rakyat, kata dia, turut menggerakkan sektor lain seperti pedagang, tukang ojek, hingga pelaku usaha kecil.
“Jika perjuangan penambang dilemahkan, itu sama saja dengan menembak jantung kehidupan ekonomi Pohuwato. Dampaknya bukan hanya pada penambang, tetapi juga pada segmen ekonomi lainnya,” tegasnya.
Dirinya juga turut mempertanyakan pihak-pihak yang membela perusahaan namun dinilainya bukan berasal dari kalangan pemuda lokal dan tidak memahami konteks sosial daerah. Ia mencurigai adanya upaya membangun narasi tandingan yang kontra terhadap perjuangan penambang dalam mencari keadilan di tanah sendiri.
Sebagai bentuk keterbukaan, Rusli menyatakan kesiapannya untuk berdiskusi secara terbuka dengan pihak-pihak yang berbeda pandangan. “Kalau memang merasa paham persoalan ini, mari kita diskusi terbuka. Supaya cara berpikir yang keliru bisa kita luruskan bersama,” pungkasnya,(Riyan L).
















