LENSAGORONTALO.COM, POHUWATO – Beredarnya rekaman suara yang diduga melibatkan oknum Human Resources (HR) di lingkungan Merdeka Gold Project terus menuai reaksi dari berbagai pihak, Selasa (03/02/2026).
Kali ini, sorotan datang dari perwakilan anak cucu penambang rakyat Pohuwato, Yopi Y. Latif, C.ILJ, yang mempertanyakan sikap dan tanggung jawab perusahaan atas dugaan pernyataan yang dinilai menyepelekan masyarakat lokal serta menyeret nama partai politik.
Yopi menilai, isi percakapan dalam rekaman yang beredar luas tersebut tidak hanya berpotensi melukai perasaan karyawan lokal, tetapi juga mencerminkan relasi industrial yang tidak sehat.
Terlebih, adanya penyebutan nama partai politik yang didirikan oleh Presiden Republik Indonesia terpilih, Prabowo Subianto, dianggap sebagai tindakan yang tidak pantas dan keluar dari konteks hubungan kerja.
“Sebagai anak cucu penambang rakyat Pohuwato, kami mempertanyakan sikap perusahaan. Jika benar rekaman itu berasal dari oknum HR, maka ini bukan persoalan sepele. Ada kesan merendahkan masyarakat lokal, menekan karyawan, bahkan berani membawa-bawa nama partai politik dalam urusan kerja,” tegas Yopi.
Ia menekankan bahwa masyarakat Pohuwato memiliki sejarah panjang dalam aktivitas pertambangan, jauh sebelum hadirnya perusahaan besar.
Kontribusi tersebut, menurutnya, seharusnya menjadi dasar bagi perusahaan untuk membangun hubungan yang saling menghormati, bukan justru menghadirkan tekanan psikologis terhadap tenaga kerja lokal.
Yopi juga meminta agar pihak Merdeka Gold Project bersikap terbuka dan tegas dalam menyikapi dugaan perilaku oknum HR tersebut, termasuk melakukan klarifikasi resmi kepada publik.
“Perusahaan harus menjelaskan sikapnya. Apakah pernyataan itu mencerminkan kebijakan perusahaan atau hanya ulah oknum. Jangan sampai masyarakat lokal terus diposisikan lemah di tanahnya sendiri,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Merdeka Gold Project terkait keaslian rekaman suara maupun langkah yang akan diambil perusahaan terhadap oknum yang diduga terlibat.(red)



















