LENSAGORONTALO.ID, –GORONTALO. Pengamat militer Dr. Connie Rahakundini Bakrie hadir ditengah-tengah Keluarga Besar Civitas Akademika Universitas Gorontalo dalam Rangka Kuliah Umum yang mengangkat tema “Analisis Pertahanan, Militer dan Intelejen dalam teori Kepemimpinan Bervisi World Balance”.
Kegiatan yang dilaksanakan di ruangan Auditorium Universitas Gorontalo dihadiri oleh, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan DLP Gorontalo Dr. Rustam Akili, SE., SH., MH., Rektor Universitas Gorontalo Dr. Ibrahim Ahmad, SH.,MH. dan seluruh Dekan Fakultas, Kepala Program Studi serta mahasiswa Universitas Gorontalo. Juma’at, (18/03/2022).

Sebagaimana Pantauan awak media Lensa Gorontalo.Id, Dr. Connie Rahakundini Bakrie menjelaskan tentang materi Kepemimpinan Bervisi World Balance Of Pawer. Menurut Warren Bennis dan Burt Nanus Kepemimpinan adalah Kekuatan yang sangat berpengaruh dibalik kekuasaan suatu organisasi baik Negara maupun Non Negara melalui dua Konsep dasar yakni Ilmu dan Seni.
“Balance of power mengacu pada keseimbangan antara Negara-Negara atau aliansi untuk mencegah satu entitas menjadi kuat dengan keseimbangan Negara tersebut tidak dapat memaksakan kehendaknya atau mengganggu kepentingan Negara Lain”, ucap Penulis Buku Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal.

Soekarno melalui pidatonya To Build The World A New tahun 1960 menyatakan Negara besarlah yang sering kali bertindak menciptakan instabilitas dunia melalui perang, Indonesia harus mampu tampil tegas secara diplomatic juga secara militer dalam menjalankan upaya mewujudkan perdamaian dunia.

“Dari Perspektif Balance Of Power Presiden Vlandimir Putin justru seperti Soekarno yang sedang berjuang membangun keseimbangan Regional dan Global”, ungkapnya.
Dalam konsep berdikari Presiden Soekarno dalam pidato Ia menyebutkan bahwa imprealismelah yang membutuhkan Indonesia, bukan kita yang membutuhkan kaum imperialis.

“Inilah kenapa sesudah kaum imperialis terlalu banyak cingcong dan pertingkah, olehnya Aku seruhkan Go To Hell With Your Aid. Karena yang ditolak oleh berdikari Presiden Soekarno adalah ketergantungan kepada imprealisme, bukan kerjasama yang sama sederajat dan saling menguntungkan”, Imbuh Dr. Connie Rahakundini Bakrie pengamat analisis pertahanan, militer dan intelijen.

“Intinya, bahwa kepemimpinan Presiden Soekarno dan Putin adalah berani berpikir besar dan bertindak melawan arus untuk kemajuan dan Nasional Bangsa”, tandasnya. (ARB)



















