LENSAGORONTALO.COM, Opini – Di Desa Hulawa, setiap pagi anak-anak berlari kecil menuju sekolah dasar mereka. Seragam putih yang masih wangi sabun, buku tulis yang dijepit di dada, dan wajah polos yang penuh harapan menjadi pemandangan yang seharusnya menenangkan hati siapa pun yang melihatnya.
Namun, di balik pagar sekolah, hanya beberapa puluh meter dari ruang kelas, deru alat berat perusahaan memecah kesunyian pagi. Suara mesin yang keras dan berulang seperti dentuman tak berkesudahan, seolah menggeser peran suara guru menjadi sekadar bisik-bisik yang tak terdengar. Bahkan, kadang meja bergetar pelan ketika beban besar dipindahkan.
Di dalam kelas, guru berusaha meninggikan suara, namun kata-katanya kalah oleh raungan logam dan mesin. Anak-anak yang seharusnya memusatkan perhatian pada huruf-huruf di papan tulis, kini lebih sering menoleh ke jendela. Sebagian menutup telinga dengan tangan kecil mereka. Sebagian lain hanya memandang kosong, mencoba memahami mengapa sekolah mereka berada di bayang-bayang kebisingan.
Bagi mereka, sekolah bukan hanya tempat belajar. Ini adalah satu-satunya pintu yang bisa membuka masa depan. Tetapi pintu itu kini dijaga oleh kebisingan, debu, dan getaran yang terus menguji ketahanan fisik dan mental.
Ironisnya, keadilan untuk anak-anak Desa Hulawa ini masih belum menemukan jalannya. Perusahaan tetap beroperasi seolah keberadaan sekolah hanyalah latar belakang yang tak perlu diperhitungkan. Pemerintah daerah pun seakan tak memiliki kekuatan penuh untuk mengatur. Sementara itu, masyarakat desa bertanya-tanya, sampai kapan masa depan anak-anak harus bersaing dengan ambisi industri?
Perusahaan sering berbicara tentang CSR, tentang kepedulian pada lingkungan dan masyarakat. Tetapi kepedulian itu seharusnya dimulai dari hal paling mendasar: menghormati hak anak untuk belajar dalam suasana yang aman dan tenang.
Langkah sederhana seperti membangun peredam suara, mengatur jam operasional agar tidak berbenturan dengan jam sekolah, atau memindahkan aktivitas berat jauh dari lingkungan pendidikan, adalah wujud nyata dari tanggung jawab itu.
Kalau kita membiarkan keadaan ini terus berjalan, kita sedang mengajarkan pada anak-anak bahwa suara mesin lebih penting dari suara tawa mereka. Bahwa kepentingan produksi lebih utama daripada masa depan mereka. Dan jika itu terjadi, kita tidak hanya membiarkan generasi ini kehilangan kesempatan, tetapi juga membiarkan hati kita kehilangan rasa.
Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak akan diingat dari berapa banyak ton hasil tambang yang keluar dari tanahnya, tetapi dari seberapa banyak anak-anaknya yang tumbuh cerdas, sehat, dan bahagia tanpa harus menutup telinga mereka dari kebisingan yang tidak pernah mereka minta.



















