LENSAGORONTALO COM, POHUWATO – Dunia pendidikan di Pohuwato kembali tercoreng. Seorang mahasiswa baru Universitas Pohuwato (UNIPO), Hitler Simanungkalit, di Drop Out (DO) oleh pihak kampus, gegara dirinya menulis dan memberitakan persoalan gaji dosen yang sudah 6 bulan belum terbayarkan.
Langkah kampus ini sontak menuai gelombang kritik, kecaman, dan protes keras, baik dari mahasiswa, aktivis, maupun masyarakat umum.
Ketua Mandataris Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (AKPERSI) Pohuwato, Yopi Y Latif, bahkan tak segan melontarkan kutukan keras.
“Ini adalah tindakan otoriter dan memalukan! Gaji dosen enam bulan belum dibayar adalah masalah serius yang merugikan dunia pendidikan. Alih-alih menyelesaikan, kampus malah membungkam suara mahasiswa dengan DO. Kami, AKPERSI Pohuwato, mengutuk keras langkah semena-mena ini,” tegas Yopi Y Latif, Rabu (21/08/2025).
Kampus Bungkam, Mahasiswa Jadi Korban
Persoalan gaji dosen yang menunggak hingga setengah tahun seharusnya menjadi perhatian utama. Namun, UNIPO justru memilih membungkam suara mahasiswa ketimbang memberi penjelasan terbuka. Hitler Simanungkalit, yang dikenal vokal dan berani menyuarakan fakta, kini menjadi korban kebijakan represif.
Gelombang Reaksi & Tagar Panas
Tagar #SaveHitlerSimanungkalit dan #BayarGajiDosenUNIPO mulai bergema di media sosial. Banyak pihak menilai UNIPO mencoba menutupi krisis internal dengan mengorbankan mahasiswa kritis.
Desakan Transparansi & Investigasi
Ketua Mandataris AKPERSI Pohuwato, Yopi Y Latif, menegaskan akan mengawal kasus ini bersama jaringan mahasiswa. Ia mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta pihak terkait segera turun tangan.
“UNIPO harus transparan. Kemana anggaran sehingga gaji dosen tak terbayarkan 6 bulan? Kenapa mahasiswa kritis justru di-DO? Jika dibiarkan, ini preseden buruk untuk dunia pendidikan di Gorontalo,” pungkas Yopi, (red).



















